Rencana Program Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran & Pendanaan Indikatif

Rencana Strategis (RENSTRA) Dinas Perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, peningkatan kontribusi di bidang perkebunan terhadap pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja/membuka lapangan kerja dan pengurangan angka kemiskinan, peningkatan produksi, produktifitas dan mutu produk Perkebunan serta jumlah pelaku usaha dibidang perkebunan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat wilayah Sulawesi Tengah, peningkatan kualitas sumberdaya alam memfokuskan arah perencanaan program dan kegiatan Dinas Perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, rencana kerja pemerintah Daerah, maupun Nasional dan dokumen perencanaan lainnya agar terjadi sinergi dan singkronisasi program dan kegiatan sesuai dengan kebutuhan daerah dalam rangka mewujudkan Visi, Misi Daerah.

A. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN

Dalam rangka dari tujuan yang tersebut diatas maka yang menjadi rencana program dan kegiatan dari RENSTRA Dinas Perkebunan Derah Provinsi Sulawesi Tengah terdiri dari 3 (tiga) program Teknis yaitu;

  • Program Peningkatan Produksi, Produktifitas dan Mutu Tanaman Perkebunan Berkelanjutan
  • Program Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing Industri Hilir, Pemasaran Hasil Perkebunan
  • Program Penyediaan dan Pengembangan Prasarana dan Sarana Perkebunan

Implementasi dapat dilakukan dan dilaksanakan berdasarkan program tahunan yang disusun secara internal dan bersama dengan stakeholders lain untuk mendukung aktifitas pada program – program pokok, pembangunan perkebunan strategis, program dapat diperkaya dengan aktivitas yang dilaksanakan secara ad-hoc sesuai peluang – peluang yang ada. Contoh Pengembangan IPTEK untuk menjawab masalah-masalah yang dihadapi dalam perbenihan komoditas unggulan daerah maupun nasional, pelatihan – pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai instansi terkait, fasilitas terhadap penelitian oleh peneliti dan pakar teknologi tanaman perkebunan.

Peningkatan produksi berbagai komoditas unggulan perkebunan selama 2005-2009 dicapai melalui berbagai kegiatan pembangunan perkebunan periode tersebut, yaitu Revitalisasi Perkebunan Kelapa Sawit, Karet dan Kakao, Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional, Pengembangan Kelapa Terpadu, Pengembangan Tanaman Penghasil Bio-Fuel (Bio-Energi), Revitalisasi Perlindungan Perkebunan, Revitalisasi Perbenihan, dan Pengembangan Komoditas Unggulan Nasional di luar Revitalisasi Perkebunan dalam rangka mempertahankan pangsa pasar yang sudah ada seperti Kakao, jambu mete,Cengkeh . Untuk dapat meningkatkan produktivitas tanaman sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui pengurangan biaya pembelian sarana produksi seperti pupuk dan pestisida kimia serta menjaga produktivitas lahan dan sumber air, maka tantangan pertanian ke depan adalah bagaimana mendorong petani untuk menerapkan teknologi pertanian organik yang ramah lingkungan dengan sedapat mungkin memproduksi sendiri pupuk organik yang dihasilkan dari limbah pertanian, penerapan sistem pengendalian hama terpadu, pembukaan lahan tanpa bakar serta penerapan teknologi budidaya konservasi di lahan kering.

Di sisi lain, kelembagaan kelompok usaha tani yang belum solid serta tingkat pendidikan petani yang rendah juga merupakan faktor pembatas dalam menyusun proposal/rencana usaha dan mengelola administrasi keuangan yang merupakan pra syarat dalam pengajuan pinjaman ke perbankan. Adalah merupakan tantangan ke depan untuk mendorong keberpihakan Pemerintah dan perbankan untuk memberikan kredit program dan kredit komersial berbunga rendah yang disertai dengan upaya memperluas jaringan pelayanannya hingga ke pelosok pedesaan. Di samping itu, diperlukan upaya pendampingan dan penguatan kelembagaan usaha kelompok, peningkatan kemampuan dalam menyusun rencana usaha dan manajemen pengelolaan keuangan serta penumbuhan, pengembangan kelembagaan keuangan mikro pedesaan, pengembangan Koperasi Unit Desa maupun koperasi khusus pertanian di perdesaan.

1.1. Program Peningkatan Produksi, Produktifitas dan Mutu Tanaman Perkebunan Berkelanjutan

Kegiatan yang akan dilaksanakan di bawah program tersebut adalah:

  1. Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Tahunan.
  2. Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Rempah dan Penyegar.
  3. Dukungan Penyediaan Benih Unggul Bermutu dan Sarana Produksi Perkebunan.
  4. Dukungan Perlindungan Perkebunan dan Penanganan Gangguan Usaha Perkebunan.
  5. Dukungan Pengujian dan Pengawasan Mutu Benih /bibit Tanmana Perkebunan
  6. Dukungan Teknologi Proteksi Tanaman Perkebunan

1.2. Program Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing Industri Hilir, Pemasaran Hasil Perkebunan

Kegiatan yang akan dilaksanakan di bawah program tersebut adalah:

  1. Pengembangan Penanganan Pasca Panen dan pengolahan Hasil Perkebunan.
  2. Pengembangan Mutu dan Standarisasi Perkebunan.
  3. Pengembangan Pemasaran Domestik.dan promosi hasil perkebunan

1.3. Program Penyediaan dan Pengembangan Prasarana dan Sarana Perkebunan

Kegiatan yang akan dilaksanakan di bawah program tersebut adalah:

  1. Penyediaan alat mesin perkebunan.
  2. Penyediaan pupuk dan pestisida.
  3. Pengembangan Pengelolaan Lahan dan air .

B. INDIKATOR KINERJA

  1. Pengembangan Komoditas Ekspor Perkebunan dan jumlah kelompok tani Gapoktan yang terbina
  2. Jumlah Pengguna benih unggul bermutu dan sarana produksi perkebunan
  3. Jumlah areal Pengendalian OPT ( Ha ) dan penurunan titik api (hot spot) serta penanganan gangguan usaha perkebunan
  4. Jumlah bibit tanaman Perkebunan yang tersertifikasi (btng) 11 Kab/Kota
  5. Jumlah teknologi terapan perlindungan tanaman perkebunan
  6. Jumlah Kelompok tani yang menerapkan penerapan pasca panen sesuai standar mutu
  7. Jumlah usaha pengolahan hasil perkebunan yang bernilai tambah dan berdaya saing
  8. Jumlah usaha pasca panen dan pengolahan yang menerapkan system jaminan mutu
  9. Jumlah kelembagaan pemasaran bagi petani
  10. Jumlah kemitraan usaha hasil produksi perkebunan
  11. Jumlah penyediaan alsinbun dan pembinaannya
  12. Jumlah sarana pengembangan air tanah, sumur resapan dan embung Jumlah panjang jalan produksi (km), usaha tani optimalisasi lahan terlantar dan pengembangan usaha tani, optimasi lahan rumah kompos dan pengawasan peredaran pupuk dan pestisida
  13. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan SDM aparatur dan petani dan pelaku usaha dibidang perkebunan

Dalam hal ini yang menjadi indicator kinerja Dinas Perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah yaitu ;

C. KELOMPOK SASARAN.

Sesuai dengan Visi dan Misi Pembangunan Pertanian sub sector Perkebunan adalah membangun system usaha agribisnis melalui pengembangan usaha kemitraan, meningkatkan kemampuan SDM pertanian dan organisasi ekonomi petani, mengembangkan inovasi teknologi spesifikasi yang ramah lingkungan, mempromosikan dan mengembangkan keragaman sumberdaya alam hayati secara optimal dan berkelanjutan. Maka sasaran pembangunan pertanian sub sector perkebunan secara rinci diantaranya adalah;

  1. Peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman perkebunan yang berkelanjutan melalui upaya pengembangan tanaman semusim, tanaman tahunan, dukungan penyediaan benih unggul bermutu, dan sarana produksi, perlindungan perkebunan serta dukungan manajemen dan teknis lainnya.
  2. Terfasilitasinya pengembangan budidaya tanaman rempah dan penyegar (kopi, teh, kakao, lada dan cengkeh)
  3. Terfasilitasinya pengembangan budidaya tanaman semusim (tebu, kapas, tembakau dan nilam)
  4. Terfasilitasinya pengembangan budidaya tanaman tahunan (kelapa, kelapa sawit,karet, jambu mente, jarak pagar)
  5. Terfasilitasinya penyediaan benih unggul bermutu dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas dan mutu tanaman perkebunan
  6. Terfasiitasinya pengamatan dan pengendalian organism pengganggu tumbuhan (OPT) tanaman perkebunan pada 13 komoditas perkebunan
  7. Terfasilitasinya pelayanan bidang perencanaan, evaluasi, data dan informasi, keuangan, dan pelayanan kepegawaian dan organisasi kehumasan,rumusan di bidang kesekretariatan yang berkualitas
  8. Terlaksananya pengawasan dan pengujian benih tanaman perkebunan
  9. Terlaksananya penerapan teknologi proteksi tanaman perkebunan
  10. Meningkatnya usaha pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan berkelanjutan
  11. Meningkatnya penanganan pasca panen hasil perkebunan
  12. Berkembangnya pengolahan hasil perkebunan yang berkelanjutan
  13. Meningkatnya pemasaran hasil perkebunan
  14. Meningkatnya pemasaran Internasional hasil perkebunan
  15. Meningkatnya manajemen pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan
  16. Terlaksananya pengembangan fasilitasi dalam pengolahan lahan dan air melalui upaya pendayagunaan/peningkat an lahan perkebunan, pengelolaan air irigasi perkebunan dan perluasan areal perkebunan
  17. Meningkatnya luasan areal perkebunan baru dalam mendukung peningkatan produksi perkebunan
  18. Meningkatnya ketersediaan air irigasi dalam mendukung produksi prekebunan
  19. Meningkatnya produktivitas lahan perkebunan dan prasarana jalan usaha tani/jalan produksi serta pengendalian lahan untuk mendukung peningkatan produksi
  20. Meningkatnya inovasi dan adopsi teknologi perkebunan

D. PENDANAAN INDKATIF

Penyelenggaraan Pemerintahan pada pembangunan pertanian pada sub sector perkebunan di Provinsi Sulawesi Tengah yang berperan dalam pembangunan perekonomian nasional regional, daerah melalui eksport, penyediaan pangan dan penyediaan bahan baku industry yang melalui kegiatan membangun system dan usaha agribisnis melalui pengembangan usaha kemitraan, meningkatkan SDM pertanian dan organisasi ekonomi petani mengembangkan inovasi teknologi spesifik lokasi yang ramah lingkungan, mempromosikan dan mengembangkan keragaman sumberdaya alam dan hayati secara optimal dan berkelanjutan. Dan indikatif adalah rncian dana yang dialokasikan untuk kegiatan dan sasaran yang telah ditetapkan Dinas perkebunan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah setiap tahunnya mendapatkan dana pembiayaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) murni yang berupa dana Dekosentrasi (DK) dan Tugas Pembantuan (TP) pengembangan usaha dan peningkatan produksi, produktifitas serta mutu produk perkebunan maupun pembiayaan Dana Alokasi Khusus (DAK).